Kalau sudah sampai di stasiun Gubeng.. Rasanya lega sekali, karena rasa kangen yang memuncak sebentar lagi akan menemukan obatnya. Senangnya hati saya tak akan mungkin bisa diutarakan dengan kata – kata. Sayangnya, kereta yang saya tunggu sedari jam8 itu pun tak kunjung datang. Kadang saya bertanya “apa kereta itu tau ya.. Kalo saya mau pulang kampung, jadinya terlambat datang..!” ugh, hidup ini memang terkesan kejam.. terutama untuk anak kos yang dompetnya menipis kayak saya ini. Kalau gak menengok uang yang tinggal 10rb rupiah, pastinya saya sudah pulang naik bis. Menyedihkan.. ![]()
tiba-tiba terdengar pengumuman, “hati – hati jalur 1, kereta api cepat rapih dhoho akan segera datang!” wuihh, segera saya jinjing tas buntut saya. Dan standby ditempat paling belakang sendiri karena posisi menentukan prestasi. Prestasi untuk bisa duduk.. Karna tak jarang, mereka yang kalah harus bersedia berdiri, berdesak – desakan dengan penumpang lain dan juga para pedagang. Inilah kereta api saya, kereta penumpang sekaligus pasar. Tapi jangan salah, banyak hal yang bisa saya pelajari dari sosok kereta api dhoho. Pelajaran berharga itu adalah watak sabar, nrimo ing pandum , dan ngalah. Setiap kres dengan kereta api lain, terutama yang berkepala putih.. Kereta ini selalu sabar dan mengalah serta mempersilahkan si kepala putih untuk melaju terlebih dahulu. Berwatak nrimoan karna.. Kereta saya walaupun sudah berisi sumpek oleh penumpang, pedagang, pengemis, pengamen, de el el.. Beliaunya akan tetap membuka pintu lebar – lebar dan mempersilahkan penumpang baru untuk masuk. Jika anda bertanya, sampai kapan? Jawabannya adalah sampai lantai 1 dan lantai 2 nya berjubel orang sehingga mereka tak dapat bernapas lagi! yach.. sebuah potret kehidupan rakyat kecil yang rindu akan kampung halamannya..
Pulang kampung
•Juli 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentarmenata hati
•Juli 21, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentarsenja ini, banyak sekali orang berlalu lalang, hilir mudik… sibuk dengan urusan pribadi mereka. Surabaya di bulan Juli, tetap terasa panas meski kipas angin berputar begitu kencang menerpa badan saya yang seolah tak berjiwa. Di jendela kamar kos, saya liat orang – orang itu tetap saja masih hilir mudik, dalam hati ingin sekali saya bertanya “apakah Anda sudah menyapa keluarga hari ini?”. Hmm.. awan tampak berarak, dan dalam hitungan menitpun.. langit telah gelap. Saya tutup jendela, namun tak jua saya bisa menata hati ini. Kini, si hati bertambah kacau balau karena tuannya melamun. Duh, Gusti.. terasa gundah rasanya, kalau waktu liburan begini saya berada di Surabaya, tubuh memang di sini, tapi jiwa akan tetap melayang di Kediri. Di sudut kota itu, terbayang sosok wanita sepuh yang kerap bertanya, “Muleh kapan, nduk?”atau berkata “ndang bali yo, nduk..!” tapi wanita itu, sampai kapan pun tak akan lagi bisa aq temui… DIA yang membuat hatiku makin berkecamuk, karna meski melihat tubuhnya yang berbalut kain kafan… mengantarkannya ke liang lahat pun saya tak bisa. Liburan ini… Tuhan, saya ingin menyapa makamnya.. mengaji di atas pusaran do’a… berharap Tuhan bersedia mengampuni semua dosa – dosanya, menerima semua amal ibadahnya, & melapangkan kuburnya. Wanita itu, yang membuat saya kian tak bisa menata hati… Ingin sekali saya berkata ” Nyuwun agunging pangaksami, eyang” atas semua permintaannya yang tidak bisa saya wujudkan, atas waktu dan usianya yang dikorbankan untuk membesarkan saya, atas semua jasa – jasanya yang mengasuh dan membina saya ketika ibu sibuk bekerja, atas semua utang – utang saya karna sampai detik ini pun saya belum bisa membalasnya, atas semuanya…. Tuhan, maukah eyang putri memaafkan saya ?!
Hello world!
•Juli 12, 2008 • 1 KomentarWelcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
